Semua yang ada di sekelilingku hidup. Bahkan aku bisa mendengar selimutku berbicara pada guling, kursi yang ngedumel karena menahan berat tubuhku, hingga suara boneka yang sedari tadi mengajakku bermain. Mungkin karena itulah aku tak tega membuang boneka yang aku beli sejak umur 3 tahun. Debu menyelimuti boneka-boneka itu dan aku jadi sering bersin dibuatnya. Terpaksa mamaku membungkus boneka-boneka itu dalam plastik transparan agar aku tetap bisa melihat mereka dan mereka pun bisa melihatku.
Papa menganggapku anak yang memerlukan perhatian khusus. Beliau sempat menyuruh mama untuk menyekolahkanku di sekolah luar biasa. Memang tak ada yang bisa sangat memahamiku kecuali mama. Mamaku yang tomboy dan jago main saxophone adalah mama terbaik dan paling pengertian di dunia. Mama yakin seusiaku alam imajinasi tak terbatas.
Aku sangat suka menggambar, mengamati dan tak jarang mendongengi mamaku tentang apa pun yang aku telah aku lihat-tentu saja dengan campuran imajinasiku. Ketika aku masuk kelas 1 SD, mama melihat bakatku dalam mencampur warna. Akhirnya beliau mendaftarkanku ke tempat les melukis dekat rumahku.
“Gimana belajar lukisnya hari ini, nak?” sambut mamaku. Mulutku mengunyah bistik lidah hangat buatan mama sambil bercerita hari pertamaku mengikuti les melukis. Aku sangat senang dengan galeri itu. Walaupun ruko itu kecil, terpajang lukisan-lukisan entah karya siapa saja itu. Aku ingat sekali kala itu aku terkesima dengan sebuah lukisan dimana awan menggumpal dan terdapat 12 matahari diatas sebuah kota – yang akhirnya saat aku kelas 1 SMP aku mengerti itu hanyalah pajangan foto starry night karya Vincent van Gogh.
Sudah tiga bulan aku les melukis. Setiap seminggu sekali aku datang ke ruko kecil itu. Seminggu sekali pula aku pulang setelah maghrib meskipun kelasku selesai pukul 5 sore. Aku selalu menunggu Kak Afri karena ia sering mengajakku bereksperimen dengan warna. Tak jarang sepeda kecilku diangkut dengan mobil timornya dan mengantarku pulang karena hari sudah larut. Tak jarang pula aku dimarahi mama karena merepotkan Kak Afri. Ugh, udah ganteng, baik pula.
Selain dengan mama, aku sering berbagi cerita dengan Kak Afri. Ia membantuku menuangkan segala imajinasiku ke dalam sebuah lukisan yang mereka bilang ‘menakjubkan’. Namun, suatu hari di hari rabu, aku sedih sekali karena tidak ada kelas melukis untuk waktu yang lama karena Kak Afri sakit cacar. Kata mama, cacar itu penyakit yang diakibatkan oleh virus. Kemudian aku teringat minggu kemarin Kak Afri membawa komputernya untuk di service karena terkena virus Trojan. Ah bodoh sekali, pasti dia tidak memakai masker saat main komputer, jadi tertular kan dia. Kak Afri yang malang.
Sepulang sekolah, aku diajak angin untuk bermain di danau yang terletak di belakang komplek rumahku. Kukayuh sepeda mengikuti angin menuju sebuah danau dimana taman nan hijau mengelilinginya. Mungkin ini kenapa angin mengajakku bermain di taman ini karena siang itu taman terlalu terik untuk dikunjungi. Hanya ada beberapa pedagang kaki lima yang tertidur dibawah pohon.
Ugh, aku tidak begitu suka disini. Aku merasa semuanya serba raksasa, seolah danau itu siap menyerbuku jika ada sedikit gempa dan pepohonan disini tidak berbeda dengan pohon baobab. Oh, atau mungkin saja ada godzila yang bersemayam didalam danau itu. Gawat, alam menunjukku sebagai penyelamat bumi.
Kemudian aku lihat seorang perempuan yang sama kecilnya denganku. Ia memakai jaket warna pink, celana ketat garis-garis dan sepatu putih yang sangat cocok ia pakai. Ia lebih feminim dariku dan sangat manis. Ia terdiam memandang danau, seolah ada sesuatu di dalam danau itu. Mungkin ia juga sedang memikirkan apa yang aku pikirkan. Kudatangi perempuan itu.
“Halo aku Kania,” sapaku. Ia tetap asyik memperhatikan danau itu. Aku pun ikut mengamati danau itu.
“Kamu percaya gak di dalam danau itu ada suatu rahasia yang misterius?” akhirnya ia bersuara. Ternyata ia sepikiran denganku. Kami pun asyik ngobrol tentang segala kemungkinan yang ada di dalam danau itu. Kesimpulan kami ada beberapa makhluk yang mungkin hidup di dalam danau itu, seperti godzilla, sponge bob, dewi laut, dll. Kami ngobrol lama sampai akhirnya aku harus mengakhiri pembicaraan keren kami karena hari sudah sore.
“Janji ya besok kita ketemu lagi di sini,” aku menyanggupinya.
Aku semakin rajin mengunjungi danau itu. Aku senang akhirnya aku memiliki teman yang sepikiran denganku. Ukuran baju kami sama, kesukaan kami juga sama. Aku perlu berterima kasih kepada angin yang telah memperkenalkan ku pada Amelia, gadis berjaket pink.
Mama bilang aku terlihat lebih hitam karena sering bermain di luar. Beliau memberiku topi agar mukaku tidak tambah gosong.
“Mah, ada topi satu lagi gak?”
“Buat apa, nak?”
“Buat temenku. Namanya Amelia. Biar dia engga gosong juga,”
Aku menuju ke bangku tempat biasa kami berbagi cerita. Ia seperti bumi yang selalu merindukan cahaya matahari. Amelia selalu terlihat murung jika aku belum datang dan akan terlihat murung lagi setelah kutinggal pergi. Katanya, aku satu-satunya teman yang ia miliki.
“Nih, kamu pake. Kamu bawa tiap hari ya,” aku menyodorkan sebuah topi untuk dipakai Amelia. Ia tampak tidak senang.
“Jangan kasih ke aku deh, pasti basah,” aku terkekeh.
“Tenang aja. Kepalaku lebih banyak berkeringat dari kamu. Ah sudahlah aku bawa pulang lagi saja kalau kau tak mau.”
“Iya, begitu lebih baik,” tidak seperti biasanya. Amelia terlihat cemas. Aku mengajaknya menari agar ia tidak sedih lagi. Ternyata sia-sia.
Mama bilang Kak Afri menelpon mama tadi pagi. Kak Afri bilang minggu depan aku bisa memulai les lagi. Aku senang sekali karena aku tak sabar menceritakan Amelia pada Kak Afri. Aku ingin memperkenalkan mereka.
Malam minggu adalah ritual aku dan mama untuk nonton film dan bercerita. Kalau lagi bosan, kami membeli bahan makanan untuk kami masak lalu kami nikmati bersama. Kadang aku melupakan keberadaan ayahku saking jarangnya beliau pulang kerumah. Kedudukanku sebagai anak semata wayang membuat aku dan ibuku seperti bananas in pajamas.
“Kok kamu engga pernah ngajak Amelia kerumah,nak?”
“Kapan-kapan deh aku ajak,” jawabku sekenanya.
Hari yang kunanti tiba. Akhirnya aku jalankan ritualku setiap rabu, pergi melukis dan bertemu Kak Afri. Dari awal pertemuan aku menceritakan tentang sahabat baruku, Amelia, kepada Kak Afri – sampai lupa menanyakan kabar kesembuhannya. “Oke, kalau begitu coba kamu lukiskan Amelia, biar aku bisa mengenalnya juga.”
Dengan semangat kuasku membentuk goresan seorang gadis di bangku taman. Warna merah aku campur dengan warna putih agar tecipta warna pink, warna jaket Amelia yang tak pernah ia ganti. Aku tambahkan gambar diriku disebelah Amelia. “Dia gadis kecil yang cantik,” Kak Afri memuji. Tangan kirinya memberi sedikit goresan kecil untuk mempertegas lukisanku.
Seperti biasa aku pulang terlalu larut sehingga terpaksa Kak Afri mengantarku pulang. Tapi malam ini, Kak Afri memang berniat untuk bertemu mamaku. Mama yang tiap malam bermain saxophone pun mau tak mau menghentikan ritualnya dan menemani tamu.
“Anak ibu termasuk anak yang berbakat dan sangat antusias mengikuti pelajaran. Ini saya bawa salah satu hasil karyanya,” Kak Afri menyodorkan kanvasku. Kak Afri menceritakan kemajuanku selama mengikuti les dan juga tentang objek yang aku lukis, Amelia. Mamaku tersenyum seakan cerita Kak Afri hanyalah ceracau burung-burung di pagi hari, “Setengah jiwamu adalah jiwa kakekmu, nak.”
Hari minggu pagi selalu menyenangkan. Aku bisa bangun pagi dan melakukan apapun yang aku suka. Aku sih lebih suka naik sepeda berkeliling komplek rumah dan menyapa semua yang aku lihat. Selamat pagi, matahari. Selamat pagi, dedaunan. Selamat pagi, dunia.
Beberapa blok disebelah kanan rumahku ada truk besar. Aku lihat beberapa orang mengangkut barang ke dalam rumah. Tetangga baruku. Aku mencoba menerka pemilik rumah baru itu. Ah, mungkin ibu itu tetangga baruku. Mungkin usia ibu itu tak jauh berbeda dengan mamaku, tapi wajahnya mengandung seribu beban. Yang berada disebelahnya mungkin suaminya, karena ia berkali-kali terlihat memeluk ibu itu.
“Ma, ada tetangga baru di sebelah kanan rumah kita. Kenalan, yuk,” ajakku bersemangat. Entah mengapa mamaku kurang antusias mendengarnya. Aku malah disuruh bergegas ganti baju dan mandi. Huh, padahal aku pengen kenalan.
Sudah sebulan ini aku les melukis kembali. Sudah sebulan pula aku tak bertemu Amelia. Pekerjaan rumah dan sekolah membuatku lelah untuk bermain keluar rumah. Sudah sebulan ini pula ternyata mama sering belanja dengan tetangga baru itu, keluarga Pak Hendra.
Hari minggu ini Bu Hendra mengundang kami untuk makan siang dirumahnya sebagai syukuran kecil-kecilan atas rumah barunya. Rumahnya seukurang dengan rumahku, namun lebih rapi. Banyak barang-barang antik dirumah itu. Aku bisa menemukan sebuah kotak besi tua yang ternyata adalah telephone zaman kakek-nenekku. Rumah itu dipenuhi hal-hal langka, namun sangat nyaman dan sangat kental dengan budaya jawa.
“Jadi, mengapa Ibu pindah kesini?” Tanya mamaku.
“Saya harus mencari suasana baru untuk diri saya dan juga suami. Mungkin tinggal di perumahan yang masih lebih alami dari kota dapat melupakan rasa kehilangan kami,” ujar Bu Hendra tegar.
Aku mulai bosan dengan pembicaraan orang dewasa. Aku putuskan untuk meninggalkan mereka dan berjalan ke ruang tamu. Ruang tamu Pak Hendra sangatlah heboh. Dinding dipenuhi pigura aneka warna seperti sebuah galeri foto. Kebanyakan bukan foto-foto tentang Pak Hendra ataupun Bu Hendra, melainkan foto hitam putih pemandangan alam dan berbagai aktifitas manusia. Akhirnya aku menemukan foto mereka. Mereka bertiga, memangku seorang gadis kecil.
Aku ambil pigura itu dengan usaha menaiki kursi lalu membawanya ke mamaku, “ma..ma..liat deh, ini kan Amelia. Berarti tante mamanya Amelia ya?”
“Kania! kembalikan foto itu, enggak sopan kamu,” bentak mamaku. Tangan Bu Hendra menengkram tanganku.
“Kamu melihat Amelia, nak? Dimana?” Bu Hendra terkejut.
“Dia selalu berada di danau. Aku sering bermain dengannya,” jawabku polos. Seakan seribu masalah Bu Hendra runtuh. Untuk pertama kalinya Bu Hendra terlihat cerah dan penuh harapan. Beliau menghampiri suaminya.
“Tidak mungkin! Amelia sudah meninggal, ma. Kita sudah mencarinya selama 2 tahun, bukan? Dan apa hasilnya? Nihil,” Pak Hendra bersikeras dengan pendapatnya. Bu Hendra tiba-tiba menangis. Entah kenapa aku merasa akulah yang menyebabkan Bu Hendra menangis. Apa karena piguranya aku ambil, ya?
“Sudahlah, ma. Ikhlas,” Pak Hendra mencoba menenangkan Bu Hendra. Mama akhirnya mohon pamit kepada Bapak dan Ibu Herman. Bu Herman melarangku dan memaksaku untuk mengantarnya ke danau sekarang juga. Mau tak mau aku dan mama mengantar Bapak dan Ibu Hendra ke danau.
Seperti biasa, taman sepi pengunjung. Mungkin memang taman itu tidak diperuntukkan untuk umum, hanya sebuah pemanis danau tersebut. Aku menghambur mencari Amelia. Ia tak terlihat dimana-mana.
“Aku biasanya main di bangku ini. Dia gak pernah ganti jaket pink nya,”
“Kamu tidak bertanya kemana ia tinggal, nak?” tanya Bu Hendra cemas. Ah iya, bodohnya aku tidak pernah bertanya dimana rumah Amelia sekarang.
“Sudahlah, ma. Siapa tahu itu hanyalah anak yang mirip Amelia,” Pak Hendra tetap tak percaya padaku.
“Suer, om. Amelia punya kalung kuda yang om kasih saat ulang tahun Amelia yang ke-6 kan?” Pak Hendra terdiam. Beliau tersungkur di rerumputan, mencoba menahan emosi seperti gunung yang menahan lava yang bisa keluar dengan tiba-tiba. Mama menganggapku berbohong karena aku tak menemukan Amelia di taman itu. Aku sedih sekali. Baru kali ini mama tak percaya padaku. Aku berlari menjauhi mereka, tak peduli kemana aku berlari.
Sampailah aku di sebuah pohon besar yang sangat jauh dari danau tersebut. Aku duduk di bawah pohon itu, menangis, seperti anak yang mengadukan nasibnya pada sebuah pohon. Samar aku dengar suara seorang gadis kecil memanggilku.
Itu dia Amelia! Ingin rasanya aku memeluknya, namun ia menghindar. Ia tampak begitu cerah. Senyumnya memamerkan gigi-giginya yang rapi. Kali ini dia adalah sinar mentari yang menerangiku. Aku kangen sekali padanya.
“Kan, kamu inget aku pernah bilang ada misteri didalam danau itu?” aku selalu ingat apapun yang Kania katakan. “Terima kasih telah menjadi sahabatku dan menemani hariku yang sepi. Aku selalu berpikir, mungkin aku akan terus berada di danau itu. Katakan pada ibuku, aku selalu ada di danau itu,” Kania tersenyum lalu pergi.
Tanpa berpikir apa-apa aku kembali menuju danau tersebut. Ternyata mereka masih disitu. Mungkin mereka menungguku, kecuali mama. Nafasku tersengal setelah berlari beberapa meter dari danau. “Om, tante, kata Amelia, dia selalu berada disini.”
Esoknya sepulang sekolah, mama mengajakku ke danau atas permintaan Pak Hendra. Mama sepertinya sudah mempercayaiku lagi. Kami pun ke danau dengan sepeda motor mama. Perjalanan menjadi lebih singkat.
Betapa terkejutnya aku. Taman dipenuhi banyak kuli yang entah mencari apa mereka. Beberapa orang menggali tanah taman tersebut, dan kulihat 3 orang mencari sesuatu di danau tersebut. Apa yang mereka cari?
Aku mendengar suara Amelia lagi. Ia bersembunyi dibalik pohon itu. Tangannya mengisyaratkanku untuk menghampirinya diam-diam. Tak seperti biasanya, ia terlihat lebih cerah. Kemudian aku merasa setelah pertemuan itu, aku tak akan bertemu lagi dengannya.”
“Setelah orang-orang itu memecahkan misteri yang aku katakan, mungkin aku tak akan bertemu denganmu lagi. Aku akan pindah ke tempat yang lebih damai. Terima kasih banyak, sahabatku, Kania,”
“Loh, kamu gak mau ketemu papa-mama kamu?” Amelia hanya membalas dengan senyum.
Pukul 5 sore seorang pemuda menemukan plastik hitam besar dan membawanya ke darat. Plastik itu sempat tertimbun sampah yang menimbulkan bau tak sedap. Beberapa orang berusaha membersihkan plastik itu dan membukanya. Aku melihat tangan mungil dan diselimuti jaket berwarna pink.
Bu Hendra tak kuasa menahan air matanya. Pak Hendra terlihat sangat tegar memeluk istrinya sangat erat. Tubuh mama mematung seperti tak percaya apa yang telah mama lihat. Aku pun terdiam, bingung antara menangis kehilangan, tak percaya atau takut. Kemudian aku sadar, Amelia tidak benar-benar ada di dunia. Ia tak benar-benar ada ketika kami bermain. Tapi aku adalah gadis yang paling beruntung bisa mengenal Amelia, walaupun ia tidak benar-benar nyata.
Kini, aku kuliah di sebuah perguruan tinggi seni yang jauh dari kampung halamanku. Aku sempatkan waktu untuk pulang ke kampung menengok ibu sekalian memohon doa restu untuk dilancarkan dalam pengerjaan skripsi. Banyak hal yang aku rindu dari rumah meskipun di kost-an tempat aku kuliah lebih nyaman daripada kampungku. Salah satunya adalah masakan ibuku.
Sepeda mungilku berubah menjadi sepeda gunung yang sesuai dengan tinggi badanku yang terlampau tinggi untuk perempuan seusiaku. Dulu terlalu kecil, sekarang terlampau tinggi badanku. Ku kayuh sepeda menuju danau.
Aku tak percaya dengan kebetulan. Kak Afri terlihat sedang mendorong kereta bayi sendirian. Ia sempat tak mengenaliku dan terkejut melihat Kania dalam bentuk enggrang. Aku terbahak melihat rambut Kak Afri yang mulai memutih. Sungguh waktu berjalan begitu cepat.
Taman itu berubah sangat drastis. Lebih tertata, lebih banyak pengunjung dan lebih banyak bangku taman. Danu yang dulu terlhat keruh kini lebih bening. Terpajang beberapa plang bertuliskan ‘dilarang buang sampah ke danau’. Semua terlihat berbeda. Kecuali letak bangku yang dulu sering aku kunjungi, meski bangku itu kini telah diganti dengan yang lebih kuat.
Kami berhenti di bangku tersebut. Bangku yang terletak di bawah pohon membuat kami nyaman ngobrol ngalor-ngidul. Pohon itu ternyata tak sebesar yang aku lihat saat aku SD, mereka terlihat normal. Semua tampak berbeda.
Aku masih bisa merasakannya. Ia masih disini, meski aku tahu ia telah menemukan tempat yang lebih damai daripada danau ini. Mungkin ia sama tinggi denganku sekarang. Atau ia terjebak dalam ruang keabadian dan tubuhnya tetap semungil dahulu. Ah waktu, misteri yang tak pernah bisa aku jawab.
“Boleh ku gendong bayinya, mas?”
“Tentu saja,” dengan kaku dan hati-hati aku menggendong bayi sebesar biji jagung nan sangat rapuh.
“Kuberi nama dia Amelia, gadis kecil yang selalu engkau ceritakan padaku setiap kali kita bertemu. Berharap ia akan secantik Amelia.”
Iya, Amelia. Gadis mungil bergigi rapi yang sangat cantik. Gadis yang tak pernah benar-benar bermain bersamaku, telah menemukan kebahagiaan abadi di alam sana.
Disadur dari kisah nyata lagu jubink berjudul amelia
keren loh. ini lo yang buat apa bukan?
BalasHapusalhamdulillah gw yang bikin 2 bulan yang lalu.. merinding pas denger cerita aslinya..
BalasHapus