Senin, 18 Juli 2011

untitled #1

*sepenggal cerita dari seseorang untuk kumpulan ceritaku


make up artist sudah datang, aku tinggal menunggu Hera selesai di-make up. Tidak ada yang bisa kulakukan selain bbm-an. Entah kenapa aku merasa gugup, padahal Hera yang akan manggung. Aku menghampiri bosku, artist manager dari Hera. "Nanti siapa aja yang manggung, mas?" tanyaku penasaran. event Jazz seperti ini biasanya dia pasti manggung, tapi aku sangat berharap semoga dia tidak datang.

"gue juga gak tau, La. Kayaknya banyak banget". Bosku sibuk sendiri dengan smartphonenya.

Selesai di-make up, Hera dan Bosku diantar ke backstage sedangkan aku menuju ruang penonton untuk mengambil beberapa foto saat Hera beraksi dengan pianonya. Pekerjaan yang aku idamkan sejak SMA, yaitu bekerja di dunia entertaintment. aku bersyukur walaupun hanya menjadi asisten dari manager Hera, salah seorang penyanyi yang terkenal di dunia musik Jazz. Aku juga tidak berharap langsung mendapatkan posisi yang tinggi, yang penting aku bekerja dan pekerjaan yang sekarang aku jalani adalah dunia yang aku senangi.

"Aqila!" Hera menyambutku dengan pelukan hangat saat bertemu kembali di ruang ganti.
"gue laper, habis ini kita makan di lounge yuk"
"Kenapa mesti di lounge? kan kita dapet makan dari panitia"
"ada temen gue dateng. temenin gue makan bareng dia ya," pintanya.

lalu entah kenapa aku merasa gugup saat berjalan menuju lounge. ah, mungkin hanya perasaanku saja yang terlalu khawatir. lagipula aku belum makan dari tadi siang. tak ada alasan menolak ajakannya.

seseorang yang sebenarnya sangat aku rindukan berada disana. Seperti merasakan kehadiranku, ia langsung menoleh ketempat aku berdiri bersama Hera. Terlambat untuk menghindar, seakan matanya berbicara agar aku tetap beridiri disini. Tuhan, mengapa Engkau pertemukan dengannya lagi? 


aku diam mematung. tiba-tiba Hera salah tingkah,"Aduh, Aqila, maaf ya. gue gak bermaksud buat nemuin lo ke dia. gue gak tau kalo dia ada disini juga". aku tersenyum menggelengkan kepala tanpa mengeluarkan sepatah kata. aku izin ke Hera untuk tidak menemaninya makan. i think coincidence will always happen as long as we keep loving..

aku berjalan cepat menjauh dari lounge. tanpaku sadari, ia mengikutiku hingga ke sebuah hall yang tidak terlalu ramai. Disana sedang bermain Tom Noya, musisi favorit aku dan dia. Sungguh aku tidak pernah meminta pada Tuhan akan kehidupan yang sangat dramatik dan serba coincidence ini. namun kami akhirnya kembali bertegur sapa dengan latar musik Tom Noya, seperti saat pertama kami bertemu.

seperti ada sebuah kaca yang menjadi sekat, kami berdiri saling bertatapan diantara jarak tanpa kata yang keluar. dia tersenyum, "aku sayang sama kamu, tapi kita tidak bisa saling menyayangi"
"jangan utarakan rasa itu sekarang. aku tidak mau menjadi pengganggu kehidupan rumah tanggamu,"
ia terdiam.
"biarkan kita berbicara melalui alam semesta, dan cukup Tuhan yang tau".
aku meninggalkan hall tersebut, tidak sanggup menahan air mata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar