Senin, 04 Juli 2011

batu dan air

cerita tentang keluargaku dan batu mungkin sudah sering sekali kalian dengar bahwa pada dasarnya, air bisa melunakkan batu, itu kalau kata leluhurku yang sudah bolak balik mengikuti proses dari bumi-awan-hujan-bumi dst. belakangan ini, keluargaku terus berkurang jumlahnya karena eksploitasi besar-besaran sehingga banyak dari keluargaku yang kumel dan berwarna coklat, sangat tidak bermanfaat untuk manusia. mereka sangat kecewa karena dibuat usang oleh manusia, padahal mereka ingin sekali dihargai dan bermanfaat untuk manusia. untunglah walaupun mereka berwarna coklat, sekwanan mereka masih bisa membahagiakan manusia dengan cara menciptakan arus bagi manusia pecinta rafting. ya, kami suka bermain bersama manusia.

untuk membuat arus, tentu saja kami harus bekerja sama dengan bebatuan. bebatuan? bebatuan itu benda padat beraneka ukuran, bentuk dan umumnya berwarna abu-abu. kalian bisa mencarinya di sekitar sungai. katanya ada juga di tebing dan pegunungan. ah aku belum pernah kesana.

aku lupa memperkenalkan diri. aku tidak bernama, namun manusia menyebutku air. kalau aku berasal dari setitik embun pagi yang menempel di dedaunan. kemudian aku terjatuh, meresap kedalam tanah kemudian bertemu dengan kawananku yang lain.

mereka mengajakku ke sungai dan menceritakan segala hal tentang sungai. sepertinya menarik karena menurut cerita mereka, aku bisa menemukan berbagai biota sungai, manusia, kapal, ranting bahkan pakaian. kenapa pakaian bisa hidup di sungai ya? aku tidak mengerti apa-apa karena aku baru saja lahir. kita lihat saja nanti.

ternyata benar! aku melihat manusia yang sedang bermain bersama kawananku. haha, ternyata mereka iseng menarik pakaian manusia yang sedang berenang. lalu, aku melihat bebatuan di pinggir sungai. aku menyapa salah satu diantara mereka dan menepi sejenak.

aku memperhatiakn kawananku melewati celah bebatuan tersebut. mana, katanya air bisa melunakkan batu? mengapa batu-batu itu tetap saja keras.

"hey batu, aku ingin sekali menjadi sepertimu,"
"mengapa? bukannya tidak ada orang yang mau menjadi batu?"
"karena kamu sangat kuat. ditabrak kawananku, kau masih tetap keras. lagipula, menjadi batu itu tidak melelahkan karena kamu tidak perlu terus mengalir sepertiku. baru sehai di bumi saja aku sudah lelah menelusuri sungai. kapan aku berhenti?"

batu pun tertawa mendengarku. aku tidak mengerti, kenapa ia harus tertawa? apa aku tidak terlihat serius?

"hai air, kau yakin ingin menjadi seperti diriku? sangat menyenangkan duduk diam disini menikmati sekelilingku, tidak perlu lelah. tapi, kau mau seumu hidupmu terus memandangi pohon yang sama? padahal masih banyak pemandangan yang bisa kamu lihat selain pohon di depanku itu," tunjuk batu.

benar juga ya? pasti bebatuan itu tidak bisa melihat bunga yang aku kunjungi tadi pagi. kasihan, dia hanya bisa melihat pohon tersebut tumbuh dari hari kehari, dan akan melihatnya mati kekeringan, kecuali ada yang memindahkan dirinya.

"hey air, aku memang kuat. bahakan cukup membuat manusia pingsang jika ada yang melempar diriku ke arah kepala manusia. lihat batu kecil itu? dulu ia sebesar rembulan! ia berkuasa atas sungai ini dahulu."

wah, besar juga, pikirku. "lantas, kenapa ia bisa lebih kecil darimu? kalian menghajarnya?"
"bukaaan, air. hanya kawananmu lah yang bisa mengalahkan kuasanya. pelan tapi pasti. butuh waktu bertahun-tahun untuk membuat batu tua itu takluk kepada air."

aku diam sejenak. "aku ingin menjadi sepertimu, air. bisa pergi kemanapun melihat dunia. bisa menyesuaikan dimanapun kau ataupun manusia mau. hal yang menyenangkan dariku hanyalah kekuatanku. namun, kekuatanku saja bisa kau kalahkan dengan kawananmu."

aku bersyukur pada Sang Penciptaku. sungguh adil Sang Pencipta memberikan kelebihan diatas kekurangan makhluk-makhluk ciptaanNya. sejak itu aku berjanji untuk menjadi air sejati, air yang baik, rendah hati dan selalu bersyukur.

"sampaikan salamku kepada setiap bunga yang kau lihat, wahai air." aku membalas senyumannya. pertemuan singkat yang memberikanku banyak pelajaran berharga. semoga aku bisa menceritakan pengalamanku pada sekawananku yang akan lahir nanti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar