Jumat, 20 Mei 2011

imaginary conversation #3

kakiku tidak bisa diam. kebaya yang aku kenakan tiba-tiba serasa sesak. hidungku berkeringat, padahal aku AC mobil sudah mengarah ke wajahku.
"mereka gak akan ngigit kamu kok," tanganya menarik tanganku yang sedari tadi kugigit. ah, terima kasih, Tuhan telah memilihkan untukku lelaki yang bisa menenangkanku. sedikit orang yang bisa menenangkan diriku hanya dengan senyuman. 
aku lupa tepatnya kapan dan bagaimana kami bisa bertemu. apakah aku duluan yang suka atau dia, aku benar-benar tidak bisa mengingatnya saat itu. 
"hey, jangan melamun terus! ayo turun." astaga, sejak kapan mobil ini sudah terparkir? serasa memiliki dunia sendiri, aku terlalu hanyut dalam pikiranku. 
pintu kayu terbuka lebar. dari luar, terlihat beberapa tamu duduk saling bercengkrama. Darma masuk duluan, disambut beberapa saudaranya. aku menunggu dibelakang Darma untuk diperkenalkan. 
beberapa saat kemudian, mama dan papanya datang menghampiri kami. sambutan orang tuanya sangat hangat. adiknya mirip Darma, seperti cetakan agar-agar. 
tiba-tiba aku merasa tidak nyaman. aku merasa 'diamati'. feelingku benar. 

saat aku dan Darma sedang berbincang dengan orang tua Darma, seorang laki-laki setengah botak memperhatikan kami dengan tatapan sinis. tangannya menggenggam segelas cola, dan memasukkan tangan kirinya ke dalam saku celana. 
aduh, ada yang salah dengan diriku? apa ia tidak suka dengan penampilanku? auraku? apa aku terlalu jutek? 
perawakannya sama dengan Darma, berisi namun lebih tinggi dibanding Darma. aku mengira-ngira apakah ia kakanya Darma? namun setahuku, Darma tidak memiliki kakak. 
Darma melambaikan tangan menyuruh lelaki itu untuk menghampiri kami. Ia meletakkan gelasnya, dan menyembunyikan kedua tangannya ke dalam saku. 

"Ini An, yang sering gw ceritain ke lo. Kin, kenalin ini sepupu aku," Darma menepuk pundak lelaki itu, seakan ia tidak menyadari betapa tajamnya pandangan mata lelaki itu kepadaku. 
"Kinanthi," ucapku berusaha ramah dan menghilangkan keraguanku untuk berjabat tangan dengannya.
"Andika," jawabnya singkat kemudian berlalu. 
kemudian aku tersadar akan suatu hal. hal yang tak pernah aku perhatikan dan nyaris aku lupakan.

***
Darma mengantarku pulang. sepanjang jalan, aku menceritakan tanggapanku tentang keluarganya. kami bertukar cerita tentang keluarganya, namun aku sama sekali tidak menyinggung sikap Andika yang dingin terhadapku. 
aku berdiri di depan rumah, melambaikan tanganku dan menunggu mobil hitamnya lenyap dari pandanganku. 
high heels aku jinjing. aku melangkah gontai menuju pintu rumah. 
"gak pengen menyapa bintang dulu?" aku kenal suara itu. aku tetap tidak menoleh.
"dulu kamu tidak bisa tidur sebelum melihat bintang," aku ingin buru-buru masuk. namun suara lelaki itu semakin mendekatiku.
"ah, iya ya. sekarang kamu lebih suka melihat ombak lautan bersama Darma. Yayaya, Darma selalu cerita ke gw betapa ia seneeeng banget melihat hal yang ia sukai bersama lo," 

"mau lo apa sih?!" bentakku. 
jarak kami hanya sepanjang tanganku. aku tidak bisa mengartikan tatapan matanya. 
"kenapa lo gak pernah mencari gw?" 
"karena gw gak mau mengecewakan lo, boo," sedikit lagi stimulus tentang masa lalu, air mata tak akan bisa aku bendung. banyak hal yang ingin aku katakan padanya. namun yang keluar hanyalah sunyi. 
"Semoga Darma gak akan pernah 'menghilang', seperti yang pernah gw lakuin ke lo," ia membalikkan badan meninggalkan rumahku. 
kenapa kita baru ketemu (lagi) sekarang?


inspirated by : SO7- yang terlewatkan

aku harap kita akan benar-benar bertemu, suatu hari nanti..

2 komentar:

  1. ah masa sih mantan yang ninggalin kesan segitu dalam bisa dilupakan? masih agak terlalu dangkal ceritanya, dhe. (on my opinion)
    hehe ayo teruslah berkarya!

    BalasHapus
  2. belom selesai li, kan belom gw ceritain sejarahnya bisa 'lupa'.. ;)

    BalasHapus